Saturday, 22 October 2011

Kenapa tidak di beri gelas


Pernah suatu hari Rasulullah SAW pulang dari perjalanan jihad fisabilillah. Beliau pulang diiringi para sahabat. Di depan pintu gerbang kota Madinah nampak Aisyah r.a sudah menunggu dengan penuh kangen. Rasa rindu kepada Rasulullah SAW sudah sangat terasa. Akhirnya Rasulullah SAW tiba juga ditengah kota Madinah. Aisyah r.a dengan sukacita menyambut kedatangan suami tercinta. Tiba Rasulullah SAW dirumah dan beristirahat melepas lelah. Aisyah dibelakang rumah sibuk membuat minuman untuk Sang suami. Lalu minuman itupun disuguhkan kepada Rasulullah SAW. Beliau meminumnya perlahan hingga hampir menghabiskan minuman tersebut tiba tiba Aisyah berkata “ Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”. Rasulullah SAW diam dan hendak melanjutkan meminum habis air digelas itu. Dan Aisyah bertanya lagi, Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”Akhirnya Rasulullah SAW memberikan sebagian air yang tersisa di gelas itu Aisyah r.a meminum air itu dan ia langsung kaget terus memuntahkan air itu.Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat dicampur dengan garam bukan gula. Kemudian Aisyah r.a langsung meminta maaf kepada Rasulullah.

Itulah sebagian dari banyaknya kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Dia memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh istrinya, tidak memarahinya atau menasihatinya dengan kasar. Rasulullah SAW memberi kita teladan bahwasanya akhlak yang mulia bisa kita mulai dari lingkungan terdekat dengan kita. Sebuah hadits menyebutkan, “ Lelaki yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya”. Semoga kita diberi taufik untuk bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW

http://kisahislami.com/

Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang


Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais Al-Qarni mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hari Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sampbil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia ?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama wajah saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Kutipan : Kisah orang-orang sabar

http://kisahislami.com/

Friday, 21 October 2011

Iman Semut di zaman Nabi Sulaiman

Pada zaman Nabi Allah Sulaiman AS, berlaku satu peristiwa apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut, " Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu?"

    Semut pun menjawab, "Rezeki di tangan Allah, aku percaya rezeki di tangan Allah, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus ini ada rezeki untukku."

    Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya, " Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?"

    Tap into a fun new experience

    Jawab semut, "Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan."

    Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan, "Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong."

    Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian diambilnya gandum sebiji, dibubuh ke dalam bekas dan ditutup bekas itu. Kemudian Nabi Allah Sulaiman meninggalkan semut itu di dalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.

    Setelah cukup satu bulan, Nabi Allah Sulaiman melihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menempelak semut itu, "Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah sahaja."

    Jawab semut, "Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong. Kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa."

    Itulah Iman Semut!!!

KISAH ANAK DENGAN POHON EPAL

Saya tertarik dengan suatu cerita teladan..Cerita panglipulara yang pernah saya dengar sewaktu kecil-kecil dahulu…

Kisah pohon epal..
“Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon epal yang amat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon epal ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan epal sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon epal tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon epal itu juga menyukai anak tersebut.

Masa berlalu…

Anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon epal tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon epal itu.” Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.” Aku mahukan permainan. Aku perlukan wang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.Lalu pohon apel itu berkata, “

Kalau begitu, petiklah epal-epal yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan wang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua epal dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagiselepas itu. Pohon epal itu merasa sedih. Masa berlalu…Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.

Pohon epal itu merasa gembira.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon epal itu.”Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan wang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkah kau menolongku?” Tanya anak itu.”

Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon epal itu memberikan cadangan.Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannyamerasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagiselepas itu.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yangpernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon epal itu.” Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai boat. Bolehkah kau menolongku?” tanya lelaki itu.”

Aku tidak mempunyai boat untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untukdijadikan boat. Kau akan dapat belayar dengangembira,” kata pohon apel itu.Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batangpohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengangembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namunbegitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakindimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalahanak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apelitu.”

Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untukdiberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahkuuntuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangkuuntuk kau buat boat. Aku hanya ada tunggul dengan akaryang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nadapilu.”
Aku tidak mahu apelmu kerana aku sudah tiada bergigiuntuk memakannya, aku tidak mahu dahanmu kerana akusudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batangpohonmu kerana aku berupaya untuk belayar lagi, akumerasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tuaitu.”

Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohonapel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon epal itu dan beristirahat. Mereka berdua menangiskegembiraan.
Tersebut.

Sebenarnya, pohon epal yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapa kita. Bilakita masih muda, kita suka bermain dengan mereka.Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuanmereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolongkita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dangembira dalam hidup.Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikapkejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, ituhakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kinimelayan ibu bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapakepada kita. Jangan hanya kita menghargai merekasemasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.”

Suami yang myesal..

Assalamualaikum….
Kehadapan ustaz yg saya hormati…saya tidak tahu..di mana ingin saya mulakan bicara ini… tetapi saya mesti menceritakn kisah ini pada ustaz supaya hati saya tenang dan mungkin dapat meredakan rasa berdosa…saya selama ini…ustaz mungkin tidak kenal saya namun saya mengenali ustaz..tak mengapalah kalau ustaz tak kenal saya pun….
Ustaz saya merupakan seorang lelaki yang mempunyai memori kehidupan lampau yg cukup menyedihkan…harap ustaz tidak bosan mendengarnya….Saya merupakan seorang suami..kepada seorang isteri yg amat baik dan setia….namun ustaz ..saya tidak pernah menghargai kasih dan sayangnya yang dicurahkan kepada saya….kerana pada waktu itu …mata hati saya terlalu buta untuk membezakan yang mana kaca dan permata.
Ustaz saya telah berkahwin dengan seorang wanita yang pada asalnya tidak saya cintai….dia seorang yang sederhana pada segi paras rupanya….seorang yang tidak pandai bergaya …tetapi kuat pegangan agamanya…. bertudung labuh…bersopan santun.. baik budi bahasanya…. Untuk pengetahuan ustaz perkahwinan kami ini.. segala-galanya….diaturkan oleh keluarga dalam keadaan saya masih belum bersedia…
Ustaz terus terang saya katakan yang saya sudahpun mempunyai teman wanita yg jauh lebih cantik daripada isteri saya dan kami amat menyintai antara satu sama lain….cumanya saya akui teman wanita saya ini agak sosial sedikit dan tidak menutup aurat……Ustaz selepas berkahwin dengan isteri saya itu…jiwa saya menjadi kacau dan keliru…..saya amat marah kepada isteri saya…kerana pada anggapan saya kerana dialah saya tidak dapat bersama kekasih saya yg amat saya cintai itu.
Ustaz sepanjang kehidupan kami…saya selalu sahaja mencari jalan untuk menyakitkan hatinya…dengan harapan kami akan bercerai setelah dia tak tahan dengan kerenah saya….namun rupanya ustaz…isteri saya ini adalah wanita yang penyabar….pernah saya tidak balik ke rumah..dengan tujuan isteri saya akan membenci saya…tetapi selama mana lambat sekalipun saya balik ..dia akan tunggu saya dan bila saya masuk ke dalam rumah…dia menyambutnya dengan mesra dan bertanya: “Abang dah makan…?Nak saya panaskan lauk dan hidangkan makanan?”
Ustaz…pernah suatu hari saya menampar mukanya….apabila dia bertanya pada saya…”Abang dah solat?...abang tak pernah solat ke?.....Paannggg..!!satu tamparan kuat saya berikan di pipinya….perasaan geram..marah dan rasa terhina….bercampur ego yg menggila…Bengkak pipinya…dia menangis terisak-isak……saya ingatkan mungkin dia akan membenci saya..tetapi rupa-rupanya…..dia bersabar dan melayan saya sebagai suaminya.
Ustaz pernah suatu hari…dia ingin bermanja dengan saya…..membawa sepinggan nasi goreng yang digoreng…untuk saya …pada masa itu saya sedang berbual mesra dengan kekasih saya di dalam handphone……ketika dia ingin menyuapkan nasi kemulut saya….saya tolak pinggan …sehingga jatuh berkecai bersama nasi goreng yang digoreng khas untuk saya…..dengan linangan air mata….dia mengutip setiap butiran nasi goreng yang berhamburan ke lantai…
Ustaz saya bertambah lupa daratan…saya habiskan masa berhibur dan berlibur dengan kawan-kawan di luar..dengan harapan isteri saya akan lebih sakit hati dan meninggalkan saya rupanya dia tetap tabah dan bersabar…..pernah juga saya menendang badannya kerana dia menasihati saya supaya tidak mencari hiburan dengan jalan yang dimurkai Allah.
Ustaz….pernah suatu ketika apabila keluarganya datang bertanyakan khabar dia kata dia amat bahagia bersama saya…tapi sebenarnya hanya saya yang tahu dia berbohong.
Ustaz suatu hari saya telah diberikan balasan oleh Allah…dan saya kira itu adalah balasan…apabila saya terlibat dengan kemalangan….tulang paha saya patah dan dan sememangnya saya tidak berdaya utk bangun….hampir lima bulan saya terbaring tidak berdaya….ketika itulah isteri saya menjaga saya dengan setia sekali…..berak kencing saya… dia tadahkan… dia basuhkan tanpa ada rungutan atau perasaan genyi mahupun geli ….dialah yang memandikan saya…menggosok badan saya dan memakaikan pakaian utk saya….bila saya mengerang sakit kerana kaki yang bengkak di tengah malam…berdenyut-denyut sakitnya…dialah yang bangun …..dalam keadaan mengantuk dan terhoyong hayang kerana tidak cukup tidur..dia datang kepada saya dan menyapukan ubat krim dan memberi saya ubat penahan sakit…sehingga saya rasa lega dan tertidur….tetapi isteri saya tidak tidur hingga ke pagi…….risau saya mengerang kesakitan lagi.
Ustaz isteri sayalah yang menyuapkan saya makan…dia sendiri tidak akan makan…melainkan setelah saya kenyang….dia akan membuatkan makanan dan minuman mengikut kehendak dan selera saya
Bila saya kenangkan kembali….sewaktu saya terlantar sakit tiada siapa pun dari teman-teman yang setia berjoli dengan saya dahulu… datang menghulurkan bantuan apatah lagi melawat…kekasih saya..lagi lah..apabila dapat tahu saya kemalangan dan tidak boleh bangun…dia tidak mahu lagi..menghubungi saya malah meminta hubungan kami diputuskan..kononnya saya suami orang..huh..sekarang baru dia kata saya suami orang..dulu….dialah yang menghasut dan memberikan harapan pada saya untuk membenci isteri saya... ketika itu barulah saya sedar betapa besarnya kesilapan dan dosa yang telah saya lakukan...Ustaz…..saya …kasar..kejam dan zalim kepada isteri yg menyayangi saya….besarnya dosa saya…..amat menyesal rasanya.
Ustaz….ketika saya boleh berjalan ..sedikit demi sedikit…dan saya beransur pulih….isteri saya jatuh sakit…..badannya menjadi kurus kering….tiada selera makan…terbaring..tak bermaya…..kata doktor yang merawatnya….isteri saya jadi begitu kerana terlalu letih dan susah hati….hati saya menjadi sebak..kerana saya tahu sayalah puncanya….
Ustaz kesihatan isteri saya makin teruk…..mukanya makin pucat….tetapi dia tetap senyum….saya menangis sepuas-puasnya memohon ampun dan maaf di atas kejahatan yg pernah saya lakukan terhadapnya….dia hanya tenang dan menjawab dia telah lama maafkan saya….”Abang saya dah lama maafkan abang…saya sayangkan abang”……berderai airmata saya hancur hati saya….pilu bercampur sebak yang amat sangat…diikuti dengan perasaan menyesal.
Ustaz selepas itu isteri saya di masukkan ke dalam wad kecemasan…..saya menjaganya setiap hari….saya belai rambutnya saya kucup dahinya…sambil airmata ini tidak berhenti—henti mengalir…”Jangan menangis bang….bukan salah abang…..mungkin saya ni yang tidak pandai mengambil hati abang…”Berdentum….seolah-olah hati saya disambar halilintar…saya menangis lagi….sehingga keluarga yang datang melawat terpaksa menenangkan saya…..malah ada yang memuji saya ….kerana beranggapan saya suami yang amat menyayangi isteri…..ternyata pujian itu bagaikan sumpahan utk saya.
Ustaz…..isteri saya ada berkata…dia meminta maaf kerana tidak dapat melahirkan zuriat untuk saya..kerana masanya utk menghadap ilahi semakin hampir….saya meraung….merayu kepadanya agar tidak meninggalkan saya…tapi katanya…setiap yang hidup pasti akan mati…dan dia meminta saya menjaga diri baik-baik….kerana dia tidak boleh lagi menjaga saya….ustaz..saya menangis …sehingga saya menjadi lemah….apabila dia mengucapkan kata kata terakhir itu.
Ustaz…tepat jam 3.00 ptg…setelah dua minggu berada di hospital…isteri saya telah pergi meninggalkan saya selama-lamanya….dengan bebanan dosa dan jutaan kesalan yang menerjah hati ini…saya meraung semahu-mahunya….menyesal di atas kekasaran yg pernah saya lakukan.
Ustaz jiwa saya tak tenteram…apakah Allah akan mengampunkan dosa saya ini…..apakah kekasaran dan kejahatan serta layanan buruk saya kepada isteri ….akan diampunkan Allah….tolonglah ustaz saya amat menderita…..jiwa saya terseksa…..mungkin ini hukuman yang patut saya terima.
Masih terngiang di telinga saya pesanan akhir isteri saya..”abang…jagalah diri baik-baik….jangan lupa tunaikan solat….berbuat baik… takutlah kepada Allah….dan jika bertemu dengan insan bernama isteri….jangan berkasar dengannya sayangilah dirinya.”
Ustaz sebelum isteri saya menghembuskan nafas terakhir…dia ada meninggalkan satu nota dan sebuah lagu untuk saya dengar dan hayati….lagu itu adalah harapan yang dia impikan dari saya tetapi tidak sempat dia nikmati….kasih sayang yang terkandung dalam lagu itu…dia harapakan dari saya….Di dalam nota itu dia menulis “Abang..dengarlah lagu ini dan ingatlah saya selalu…Dahulu...saya senantiasa menanti abang pulang ke rumah…Saya teringin sangat nak makan bersama abang…..mendengar cerita abang….menyambut abang pulang dari kerja….bergurau dan bermanja dengan abang…..memeluk abang ketika tidur…..tetapi semuanya mungkin tidak sempat bagi saya…jaga diri…..sayang abang….selamanya.
Ustaz ….saya harap ustaz tak marah saya meluahkan perasaan begini panjang pada ustaz….kerana inilah pesan isteri saya sekiranya saya merasa terlalu sedih…ceritakanlah pada ustaz dia tahulah apa nak buat utk tenangkan abang……Ustaz….saya harap cerita saya ini dijadikan teladan bagi mereeka yg bergelar suami….sayangilah isteri anda….selama mana anda berpeluang utk berbuat begitu…janganlah terjerumus dengan kesilapan yg saya lakukan…pasti anda akan menyesal tak sudah…..
Terima kasih ustaz….doakan saya…….

Sedih dan sebak bila baca luahan perasaan hamba Allah ini….memang saya banyak beri ceramah motivasi dan mendengar banyak masalah masyarakat yg dihantar pada saya dan inilah yang paling sedih.yg pernah saya baca… tambahan pula lagu yg telah ditujukan isterinya itu bila dengar bertambah sebak…..dengarkanlah senikatanya…….tapi tak boleh upload lagu tu dibawah copyright....tajuknya now and forever...